Tampilkan postingan dengan label 16 September 2005. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 16 September 2005. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2012

RAKYATKU TERUS MENANGIS

Sudah 60 tahun Indonesia merdeka, tapi hal itu tak mengubah keadaan rakyatku yang terus menderita. Berbagai cobaan datang silih berganti tanpa dapat dihindari, mulai dari krisis ekonomi yang berkepanjangan, tsunami, krisis BBM sampai dengan harga kebutuhan pokok yang semakin tak terjangkau oleh rakyat jelata. Lalu kemanakah para pemimpin kita yang selalu berjanji untuk mensejahterakan rakyat dalam setiap kampanyenya.
                Mungkin jangkauan mata mereka sudah rabun hingga tak dapat menjangkau seluruh pelosok tanah ini. Ataukah bagi mereka Indonesia itu hanya Pulau Jawa? Tidak bisakah mereka sedikit menoleh ke Pulau-pulau lain yang juga merupakan bagian dari Indonesia. Pulau-pulau di luar Jawa adalah sumber devisa terbesar bagi berlangsungnya pemerintahan yang berpusat di Jawa, tetapi mengapa penduduknya sangat miskin dan alamnya terus dirampas oleh pemerintah pusat, kemana nuranimu sebagai anak bangsa wahai para pemimpin bangsa.
                Lihatlah kami disini wahai para pemimpin yang mengaku adil, kami tinggal di Pulau Kalimantan yang sangat kaya akan bahan tambang tapi tak kau ijinkan sedikitpun kami untuk mengambil apa-apa yang telah dititipkan nenek moyang kami. Kalian terus mengusik kehidupan kami sementara kau hidup bergelimang kemewahan. Mengapa kau selalu menyerukan bahwa kita bersaudara pada saat kau terdesak oleh kepentingan-kepentingan yang melawanmu, tetapi pada saat kami menuntut hak kami sebagai rakyat kau malah menuduh kami pencuri, perampok bahkan aparatmu terus manganiaya kami seakan-akan kami adalah penjahat yang tak layak dimaafkan. Haruskah kami kembali mengangkat senjata melawan orang yang mengaku saudara agar hak kami diperhatikan. Ataukah kau rela mengkhianati perjuangan para pendahulu kita yang telah mempersatukan nusantara demi kepentinganmu dan kelompokmu.
                Jika kau terus tak mendengar suara kami, maka kamipun tak akan mengakuimu sebagai saudara. Ingatlah bahwa darah dan air mata kami sudah mengering untuk membelamu wahai Ibu Pertiwi. Kami bukan akan melawanmu tetapi kami akan melawan anak-anakmu yang tidak tau balas budi. Jakarta bukan satu-satunya kota, Jawa bukan satu-satunya Pulau, Indonesia masih mempunyai ribuan kota dan Pulau yang perlu dibangun dan dilindungi.



Tuhan, dengarlah doa kami rakyat yang menangis
Kami menuntut bukan karena kami rakus ataupun tamak
Kami mengeluh bukan karena kami malas berusaha
Kami hanya menginginkan sedikit hak kami yang terampas
Jangan salahkan kami jika darah kami tak lagi merah
Jangan hukum kami jika harus berlumuran darah
Ingatkanlah mereka yang bergelimang dosa
Ampuni mereka jika mereka bertobat
Tuhan, jika Kau Maha Bijaksana
Timpakan bencana terhadap orang-orang yang nista
Gulunglah mereka dengan permadani biruMu
Tenggelamkan mereka dengan karpet panasMu
Agar mereka sadar bahwa Kau lebih berkuasa daripada mereka

MENEMPATKAN DIRI DALAM BINGKAI KEHIDUPAN YANG SEMPIT

Dalam perjalanan hidup ini, saya merasa sangat beruntung karena dapat berkenalan dengan banyak orang, banyak sifat, banyak pendapat dan berbagai macam perbedaan yang kadang kita kesampingkan karena merasa kitalah yang paling benar. Saya yakin tidak semua orang berani mengakui kenyataan itu, bahkan mereka berusaha menutup mata dan telinga erat-erat karena tidak ingin pendiriannya goyah. Lalu bagaimana kita dapat hidup damai dalam keberagaman jika tidak mau mengerti dan selalu meremehkan orang lain? Tiadalah manusia yang sempurna di dunia ini dan tiadalah kebenaran yang hakiki selain kebenaran Allah.
                Ada seorang pekerja keras yang dalam perjalanan hidupnya selalu berhubungan dengan banyak orang di tempat-tempat rawan tetapi beliau sangat dihargai oleh rekan-rekannya karena keluhuran budinya, bukan karena beliau mubaligh, ulama, kyai atau semacamnya. (semoga orang ini mendapat limpahan Rahmat dari Allah). Setelah saya tanyakan apa yang bisa menyebabkan beliau dapat bertahan di tempat seperti itu, ternyata jawabannya sangat sederhana, beliau berkata “hormati yang tua, hargai yang sebaya dan sayangi yang muda. Sungguh saya mengucap syukur akan kebesaran Allah yang telah menciptakan manusia dengan akal budi yang luhur seperti itu. Cerita tersebut sebenarnya memberikan kita pelajaran hidup yang sebenarnya sangat simple tetapi kita sering tidak peduli bahkan pura-pura tidak tau. Fenomena yang ada sekarang adalah orang akan menghormati jika dihormati, orang akan menghargai jika dihargai dan orang akan menyayangi jika disayangi. Mengapa kita umat Islam yang mempunyai ajaran paling mulia tidak berusaha menghormati, menghargai dan menyayangi sesama manusia tanpa mengharapkan timbal balik? Sudah merasa paling benarkah kita di dunia ini dengan hanya mengerti Islam dan merasa Islam? Saya mungkin bukan orang yang tau banyak tentang agama, mungkin juga sangat nista di mata para pembaca sekalian, tetapi saya berusaha mengungkapkan fakta di depan mata yang sering luput dari perhatian.
                Lalu bagaimana kita dapat menempatkan diri dalam bingkai kehidupan yang sempit ini sementara kita sendiri tidak sadar akan posisi kita sekarang. Marilah kita  bersama-sama instropeksi diri tentang pembenaran-pembenaran yang telah kita lakukan tanpa mengindahkan hak-hak orang lain. Sudah sucikah diri kita sehingga kita selalu menganggap salah semua orang yang tidak melakukan hal-hal yang kita anggap benar. Hidup itu indah dan cuma sekali maka manfaatkanlah untuk hal-hal yang berguna, jangan kau buang waktumu untuk mengoreksi orang karena belum tentu orang yang selalu kita koreksi lebih buruk dari kita.
                Mungkin apa yang saya sampaikan terlalu mendramatisir keadaan tapi saya mohon permakluman dari para pembaca sekalian karena saya sama seperti anda manusia yang lemah dan tidak ada apa-apanya. Sekali lagi Kebenaran hanya milik Allah, dan kesalahan yang terjadi adalah karena kebodohan saya dan semoga Allah mengampuni apa-apa yang bisa menjadikan fitnah dalam tulisan ini. 
               

 “HIDUP BUKAN UNTUK MENCARI ARTI HIDUP, TAPI UNTUK MEMBERI ARTI TERHADAP HIDUP ITU SENDIRI”


“SESUNGGUHNYA KEINDAHAN ITU TERLETAK PADA KEBOHONGAN”